Monday, February 23, 2015

Di Malam Hari Ini

Ya, hari ini! Pukul setengah sebelas malam lebih dua menit.


Kepalaku bagaikan disiram air dingin, ketika pesan singkatmu itu kuterima.


Lega? Ya!
Memang belum sepenuhnya lega, tapi setidaknya si kunyuk bernama Penat - yang tanpa bosan hinggap di kepalaku dan berputar-putar di pikiranku - kini mulai mengangkat sayapnya untuk terbang menjauh.


Dan kini, aku bersyukur ketika tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa bagiku untuk menunggu di depan pintumu.


Wah!






Pesanku: aku akan selalu mendukungmu hingga saat itu tiba! :)

Wednesday, February 4, 2015

Goresan Saat si Penat Datang

Sudah terlalu lama aku di sini
Terlalu lama pula terombang-ambing
Berdiri di depan pintumu yang bercelah sedikit, hanya separuh
dan yang tak kunjung terbuka lebar

Ini kali ke delapan aku menanti
Menghabiskan waktu dengan memunguti serpihan rasa pun harapan
Lelah? Mulanya tidak!
Tapi kini aku mulai merasakannya!
Dan kau tak kunjung menemuiku
Malahan kau hanya berteriak dari dalam pintumu, "ketoklah!"

Selalu begitu!

Lalu ia datang
Si kunyuk bernama Penat itu!
Awalnya tak kuhiraukan
Ia hinggap di ujung jari kakiku, kubiarkan
Kemudian ia hinggap di ujung kepalaku!
Membuatku memikirkanmu 
Membuatku ingin berbalik, meninggalkan pintumu

Tolong, tengoklah aku sedikit
karena tingkah si Penat itu semakin menjadi-jadi!
Karena kini ia bukan hanya hinggap, tapi juga berbisik;

"Sampai kapan?"

Friday, August 29, 2014

Sepotong Kisah dari Angkringan


       Arloji Ali menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ruas jalan itu masih saja ramai. Angkringan sederhana di tepi jalan itu jelas menjadi penyebab banyaknya sepeda motor berjejeran. Muda-mudi yang asyik bercakap-cakap, Bapak pemilik angkringan yang sibuk melayani pembelinya, serta gelas-gelas kaca yang bersentuhan dengan tatakannya menambah hiruk-pikuknya suasana.
        “Eh, Nak Ali. Sudah lama sekali tak jumpa. Mau pesan apa?”
     “Kopi saja, Pak.” Jawab Ali, lalu duduk di selembar tikar yang telah disediakan, sedikit berjauhan dengan ricuhnya muda-mudi itu.
      Tak sampai lima menit, kopi hangat telah disuguhkan di depannya. Ia menyesapnya perlahan, sembari menikmati suasana malam di kota kelahirannya, sejak tiga tahun bekerja di kota orang. Setidaknya ini menghilangkan penatnya, walau belum sepenuhnya. Suasana ini melemparkan ingatan Ali ke masa lampau, sekitar sepuluh tahun yang lalu.
***
      Ia bukan anak keluarga berada, bukan pula seorang kaya-raya. Hidupnya sejak kecil hanya disokong dari usaha angkringan malam Ayahnya dan keterampilan menjahit Ibunya. Tikar-tikar di angkringan Ayahnya, Ibunya sendiri yang menjahit. Membantu Ayahnya  menyuguhkan makanan ringan dan menjahit tikar dengan Ibunya untuk dijual ke tetangga, menjadi favorit Ali semasa kecil.
      “Ali si anak angkringan! Sukanya keluar waktu malam!”
      “Laki-laki hello kitty! Senang menjahit! Hahaha.”
      Ejekan dari ‘mereka yang serba berkecukupan’ seringkali membuatnya geram, malu. Pernah suatu kali Ayahnya kesusahan karena Ibunya yang sakit, dan angkringan terbengkalai karena tak ada yang membantunya. Ali? Mengurung diri di kamar sepanjang malam. Malu, kalau-kalau seorang teman memergokinya melayani pembeli. Tapi tak sampai dua hari ia kembali membantu Ayah-Ibunya. Memangnya mau hidup dari mana kalau bukan ini?
      “Dewasa nanti, mau jadi apa kamu, Nak?”
      “Pengusaha, Yah.”
      Ayahnya terkekeh mendengar jawaban anak semata wayangnya. “Modal dan ilmu berwirausaha dari mana?” 
      “Tentu saja dari Ayah dan Ibu!”
      “Mengapa kau memilih pengusaha? Untuk melanjutkan sekolahmu saja belum pasti.”
      “Karena aku tidak mau hanya berwirausaha di angkringan seperti Ayah,” Beliau hanya tersenyum simpul mendengarkan Ali.
      Semenjak itu Ali tak lagi menghiraukan ejekan ‘mereka yang serba berkecukupan’. Sebaliknya, ia berkutat dengan buku-buku pelajaran yang mulai menguning dan rapuh karena panas matahari dan air hujan. Namun semuanya terbayar sudah. Menjadi pengusaha di kota tak lagi menjadi angan-angan. Malahan kini ia mendengar kabar bahwa mereka yang dulu mengejeknya, bingung mencari pekerjaan untuk menyokong hidup.
***
      Gelas kopi kini kosong sudah. Tapi hangatnya kopi masih terasa di tenggorokan Ali. Sehangat niatnya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tak sabar rasanya, pikirnya.





Natasha Astria Bella
Kediri, 28 Agustus 2014

  

Friday, August 8, 2014

BERTEMU

Tema: Bertemu
Nats: Amsal 22:2
           Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.

  Seringkali dalam sebuah pertemuan, terdapat kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Antara orang yang berkecukupan (the haves) dan orang yang berkekurangan (the have nots). Dan yang seringkali terjadi adalah saling menjatuhkan. Menyombongkan diri.
  Tapi dalam Amsal, justru sebaliknya. Kata bertemu (ay. 2) berasal dari kata pagash (Ibrani), yang artinya ialah join; mengikat, menghubungkan, menguatkan dan saling melengkapi. Amsal tidak menuliskan dan TIDAK MENGHENDAKI pertemuan tersebut menjadi ajang show off dan kesenjangan.
  Terbukti dalam Amsal, bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan adanya kaya dan miskin. Semuanya itu bukanlah suatu ketidakadilan, namun merupakan rencana Tuhan supaya kita saling mengasihi. Saling melengkapi dan menyeimbangi. Semuanya memiliki keterikatan, dimana keduanya tidak akan tercapai jika salah satunya ditiadakan. Maka, mari bertemu di dalam Tuhan!

Adopted from: Youth for Christ

Friday, July 25, 2014

The Power of.. ?

  Mungkin sebagian besar orang--termasuk aku berpikiran seperti ini: 'hal baik apa dari dia yang bisa membuatku senang ketika bersamanya?' Atau, 'dia seharusnya mengerti perasaanku, mungkin kalau dia begini, begitu, aku akan senang padanya.'
  Tapi, sepertinya itu hanya menuntut satu pihak saja. Dan seringkali, percuma. Sia-sia.
  Lalu semalam sempat terpikir olehku, how if I change my mindset? Yaitu seperti: 'hal baik apa dari diriku yang bisa membuatnya senang ketika bersamaku?' Atau, 'apa yang bisa kulakukan sehingga dia merasa nyaman denganku?"
  Yah, sepertinya melelahkan. Tapi apa salahnya dicoba? Seperti kebanyakan orang dulu mengatakan, perubahan pada orang lain tergantung pada diri kita sendiri.

Thursday, May 29, 2014

Belum Saatnya

Bacaan: Yohanes 2:1-11
Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." -Yohanes 2:4
♣ Nats di atas sebenarnya mengingatkan kita supaya kita bertindak sesuai apa yang telah difirmankan Tuhan. 
♣ Kalau disuruh menunggu sama Tuhan? Ya tunggu! Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu dan bertindak. Pikir dulu dampaknya dan dasari pada firman. Seperti Yesus yang taat pada Bapa, 'saat-Ku belum tiba'. 
♣ Ada 2 hal yg kita harus kerjakan saat menunggu Saat dan Waktu-Nya Tuhan menggerakkan hidup kita :
  ▶ Tetap tinggal dalam Rumah Bapa.     (Lukas 2:49)
Saat kita menunggu, mari kita tetap tinggal dalam irama Pujian dan Penyembahan yang tak putus-putusnya. Rumah Bapa berarti ada kehadiran Bapa di dalam rumah itu dan kehadiran Bapa berarti ada hadiratNya yang akan melingkupi, memberkati dan membawa kita untuk lebih bersekutu dengan Dia.

▶ Minta Roh Kudus hadir dalam hidup  kita. (Yohanes 1:32) 'Nya' disini adalah Yesus, dan Roh turun dalam hidupNya dan tinggal dalam hidupNya. Dan Roh itu adalah Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus lah yang akan menggerakkan hidup kita untuk sampai pada apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita.
From: www.renungan-spirit.com dengan pengubahan.

No Post Power Syndrome!

Tak Kenal Post Power Syndrome
Bacaan: Mazmur 92:13-16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.- Mazmur 92:15
Ketika jalan kita sudah tak bisa lagi tegak. Rambut kita mulai habis dan menyisakan uban. Pinggang kita sering ngilu dan nyeri, ancaman osteoporosis. Gigi-gigi kita tak sekomplit dulu. Tenaga kita jauh berkurang dan nafas kita mudah tersengal-sengal disela-sela aktivitas. Sebuah keadaan yang menyadarkan bahwa kita sekarang sudah lanjut umur!
Bagi banyak orang menjadi manula adalah momok tersendiri. Membayangkan diri tersergap sepi karena semua anak-anaknya sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Takut kalau-kalau nanti harus “turun mesin” dan berobat ke sana ke mari. Apalagi jika masa pensiun tiba, ia akan kehilangan jabatan, pekerjaan bahkan segala tunjangan yang biasanya diterima harus dihentikan. Hampir sebagian besar orang stress ketika memasuki masa post power syndrome.
Apakah Anda mengalami gejala-gejala tersebut di atas? Mungkin Anda memegang buku ini dengan sedikit gemetaran dan membaca huruf demi huruf dalam renungan ini dengan bantuan kaca pembesar. Meski umur Anda semakin lanjut, jangan pernah percaya bahwa usia lanjut adalah momok yang menakutkan. Ada kabar baik bagi Anda : “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar .” (Mazmur 92:15)
Sebuah survey yang mempelajari kehidupan 400 orang terkenal dan menemukan bahwa 66% pencapaian terbesar mereka terjadi di atas usia 60 tahun! Konrad Adenauer masih menjadi kanselir Jerman Barat pada usia 80 dan ia memutuskan untuk tidak pernah pensiun. Michael Angelo pada usia 90 tahun masih tetap melukis, meski harus sambil berbaring. Paderewski masih bermain piano pada usia 79 tahun dan membuat hadirin harus melakukan standing ovation setelah mendengar permainannya. Kolonel Sanders memulai bisnis KFC di usia 65 tahun.
Jika kita menjadi tua, itu bukan berarti waktu untuk pensiun. Pensiun dari jabatan boleh-boleh saja, tapi semangat dan idealisme kita jangan pernah pensiun! Percayalah bahwa kita masih bisa terus melakukan sesuatu yang berarti di usia lanjut kita. Sebagai orang percaya, kita tidak akan pernah kenal dengan post power syndrome, sebab sampai pada masa tua kita akan masih terus berbuah.
Isi masa tua kita dengan sesuatu yang berarti dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Adopted from: www.renungan-spirit.com