Hari ini, tepat satu minggu setelah terjadinya suatu kejadian mengejutkan, dan mengerikan bagi sebagian orang di Surabaya. Terjadinya bom bunuh diri di tiga gereja dan Polrestabes Surabaya. Kejadian itu, puncak kesedihan dan ketakutan kami. Kejadian yang menimbulkan trauma bagi beberapa orang. Kejadian yang tanpa sadar mengikis kepercayaan kami terhadap orang lain.
Sunday, May 20, 2018
Saturday, April 7, 2018
Cara Merasa
Sore hari, sekitar pukul empat. Aku lupa hari apa saat itu, mungkin Rabu. Tidak lama setelah kepulangan si pacar dari rumahku.
Friday, February 2, 2018
Respect
Everybody is different
Everybody is unique
They have their own way to do things
Their own way of behaving
Their own way to relieve stress
Even their own way to restore their emotional balance
Everybody is unique
They have their own way to do things
Their own way of behaving
Their own way to relieve stress
Even their own way to restore their emotional balance
We don’t know what they’ve been through, what they’ve been thinking,
what has ruined their mind, or frustrated them. We don’t even know what
they have striven for.
We shouldn’t—no, we CAN’T judge them only from our perspective, just because they have different behavior.
I mean, that’s THEIR life. THEIR personality. They are the ones who
understand the most how to treat themselves. It’s up to them whatever
they want to be alone, hangout with their closest friend, go somewhere
alone, shouting loudly, even crying alot to relax and calm down
themselves after their rough day.
It’s ok if sometimes we feel
uncomfortable with their behavior. We just need to talk to them nicely.
Try to understand. Respect. They definitely have their own reason that
we may not understand.
Once again, respect.
Monday, February 23, 2015
Di Malam Hari Ini
Ya, hari ini! Pukul setengah sebelas malam lebih dua menit.
Kepalaku bagaikan disiram air dingin, ketika pesan singkatmu itu kuterima.
Lega? Ya!
Memang belum sepenuhnya lega, tapi setidaknya si kunyuk bernama Penat - yang tanpa bosan hinggap di kepalaku dan berputar-putar di pikiranku - kini mulai mengangkat sayapnya untuk terbang menjauh.
Dan kini, aku bersyukur ketika tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa bagiku untuk menunggu di depan pintumu.
Wah!
Pesanku: aku akan selalu mendukungmu hingga saat itu tiba! :)
Wednesday, February 4, 2015
Goresan Saat si Penat Datang
Terlalu lama pula terombang-ambing
Berdiri di depan pintumu yang bercelah sedikit, hanya separuh
dan yang tak kunjung terbuka lebar
Ini kali ke delapan aku menanti
Menghabiskan waktu dengan memunguti serpihan rasa pun harapan
Lelah? Mulanya tidak!
Tapi kini aku mulai merasakannya!
Dan kau tak kunjung menemuiku
Dan kau tak kunjung menemuiku
Malahan kau hanya berteriak dari dalam pintumu, "ketoklah!"
Selalu begitu!
Lalu ia datang
Si kunyuk bernama Penat itu!
Awalnya tak kuhiraukan
Ia hinggap di ujung jari kakiku, kubiarkan
Kemudian ia hinggap di ujung kepalaku!
Membuatku memikirkanmu
Membuatku ingin berbalik, meninggalkan pintumu
Membuatku ingin berbalik, meninggalkan pintumu
Tolong, tengoklah aku sedikit
karena tingkah si Penat itu semakin menjadi-jadi!
Karena kini ia bukan hanya hinggap, tapi juga berbisik;
"Sampai kapan?"
Friday, August 29, 2014
Sepotong Kisah dari Angkringan
Arloji Ali menunjukkan pukul sebelas
malam, tapi ruas jalan itu masih saja ramai. Angkringan sederhana di tepi jalan
itu jelas menjadi penyebab banyaknya sepeda motor berjejeran. Muda-mudi yang
asyik bercakap-cakap, Bapak pemilik angkringan yang sibuk melayani pembelinya,
serta gelas-gelas kaca yang bersentuhan dengan tatakannya menambah
hiruk-pikuknya suasana.
“Eh, Nak Ali. Sudah lama sekali tak jumpa.
Mau pesan apa?”
“Kopi saja, Pak.” Jawab Ali, lalu duduk di
selembar tikar yang telah disediakan, sedikit berjauhan dengan ricuhnya
muda-mudi itu.
Tak sampai lima menit, kopi hangat telah
disuguhkan di depannya. Ia menyesapnya perlahan, sembari menikmati suasana
malam di kota kelahirannya, sejak tiga tahun bekerja di kota orang. Setidaknya
ini menghilangkan penatnya, walau belum sepenuhnya. Suasana ini melemparkan
ingatan Ali ke masa lampau, sekitar sepuluh tahun yang lalu.
***
Ia bukan anak keluarga berada, bukan pula
seorang kaya-raya. Hidupnya sejak kecil hanya disokong dari usaha angkringan
malam Ayahnya dan keterampilan menjahit Ibunya. Tikar-tikar di angkringan Ayahnya,
Ibunya sendiri yang menjahit. Membantu Ayahnya menyuguhkan makanan ringan dan menjahit tikar dengan
Ibunya untuk dijual ke tetangga, menjadi favorit Ali semasa kecil.
“Ali si anak angkringan! Sukanya keluar
waktu malam!”
“Laki-laki hello kitty! Senang menjahit! Hahaha.”
Ejekan dari ‘mereka yang serba
berkecukupan’ seringkali membuatnya geram, malu. Pernah suatu kali Ayahnya
kesusahan karena Ibunya yang sakit, dan angkringan terbengkalai karena tak ada
yang membantunya. Ali? Mengurung diri di kamar sepanjang malam. Malu,
kalau-kalau seorang teman memergokinya melayani pembeli. Tapi tak sampai dua
hari ia kembali membantu Ayah-Ibunya. Memangnya mau hidup dari mana kalau bukan
ini?
“Dewasa nanti, mau jadi apa kamu, Nak?”
“Pengusaha, Yah.”
Ayahnya terkekeh mendengar jawaban anak
semata wayangnya. “Modal dan ilmu berwirausaha dari mana?”
“Tentu saja dari Ayah dan Ibu!”
“Mengapa kau memilih pengusaha? Untuk
melanjutkan sekolahmu saja belum pasti.”
“Karena aku tidak mau hanya berwirausaha
di angkringan seperti Ayah,” Beliau hanya tersenyum simpul mendengarkan Ali.
Semenjak itu Ali tak lagi menghiraukan
ejekan ‘mereka yang serba berkecukupan’. Sebaliknya, ia berkutat dengan buku-buku
pelajaran yang mulai menguning dan rapuh karena panas matahari dan air hujan. Namun
semuanya terbayar sudah. Menjadi pengusaha di kota tak lagi menjadi
angan-angan. Malahan kini ia mendengar kabar bahwa mereka yang dulu
mengejeknya, bingung mencari pekerjaan untuk menyokong hidup.
***
Gelas kopi kini kosong sudah. Tapi
hangatnya kopi masih terasa di tenggorokan Ali. Sehangat niatnya untuk
mengunjungi kedua orang tuanya. Tak sabar rasanya, pikirnya.
Natasha Astria Bella
Kediri, 28 Agustus 2014
Kediri, 28 Agustus 2014
Friday, August 8, 2014
BERTEMU
Tema: Bertemu
Nats: Amsal 22:2
Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.
Seringkali dalam sebuah pertemuan, terdapat kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Antara orang yang berkecukupan (the haves) dan orang yang berkekurangan (the have nots). Dan yang seringkali terjadi adalah saling menjatuhkan. Menyombongkan diri.
Tapi dalam Amsal, justru sebaliknya. Kata bertemu (ay. 2) berasal dari kata pagash (Ibrani), yang artinya ialah join; mengikat, menghubungkan, menguatkan dan saling melengkapi. Amsal tidak menuliskan dan TIDAK MENGHENDAKI pertemuan tersebut menjadi ajang show off dan kesenjangan.
Terbukti dalam Amsal, bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan adanya kaya dan miskin. Semuanya itu bukanlah suatu ketidakadilan, namun merupakan rencana Tuhan supaya kita saling mengasihi. Saling melengkapi dan menyeimbangi. Semuanya memiliki keterikatan, dimana keduanya tidak akan tercapai jika salah satunya ditiadakan. Maka, mari bertemu di dalam Tuhan!
Adopted from: Youth for Christ
Subscribe to:
Posts (Atom)

